Thursday, December 20, 2018

Perilaku Selfie di Lokasi Bencana Alam Jadi Tanda Adanya Masalah Psikologis


Salah satu hal yang cukup banyak beredar usai bencana alam, adalah beredarnya foto-foto terkait kondisi di tempat tersebut. Namun belakangan hal itu semakin aneh karena beredarnya foto orang yang melakukan selfie atau swafoto di lokasi bencana alam.

Dilansir dari The Conversation, Rizqy Amelia Zein, asisten dosen pada psikologi sosial dan kepribadian Universitas Airlangga menjelaskan mengapa banyak orang mengambil foto di tempat kejadian bencana. Untuk menguatkan pendapatnya ini, Rizqy menyitir pendapat dari beberapa tokoh untuk memperkuat pendapatnya.

Pendapat pertama berasal dari hhli media Yasmin Ibrahim dari Queen Mary University di Inggris dalam artikel terkait fenomena ini. Yasmin menyebut bahwa fenomena ini dikenal sebagai selfie bencana atau pornografi bencana.

Secara khusus, Yasmin mendefinisikan kebiasaan ini sebagai sebuah perilaku yang ganjil.

Perilaku ganjil yang dimotivasi oleh keinginan mencapai kepuasan diri sendiri, dengan situasi pasca bencana sebagai latar belakang, tulis Yasmin.

Pendapat kedua yang digunakan oleh Rizqy bersalah dari pakar psikoanalisis terkemuka, Carl Gustav Jung. Menyitir Jung, dijelaskan bahwa secara alamiah, manusia senang melihat orang lain menderita, karena hal tersebut menghibur diri kita, namun kita tidak secara langsung terkena dampaknya.

Ketika melihat penderitaan orang lain, seseorang mendapat kesempatan untuk menghakimi dan menertawakan orang lain tanpa merasakan penderitaan. Untuk menjelaskan hal tersebut, Jung menyebutnya sebagai corpse preoccupation sebagai keinginan seseorang untuk menyaksikan hal-hal yang aneh dan mengerikan.

Pendapat ketiga berasal dari pengajar dan filsuf dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya, Frankie Budi Hardiman. Disebut bahwa tindakan tersebut mengindikasikan bahwa seseorang sedang mencari tahu yang bersifat asing, menghakimi, egosentris dan eksploitatif.

Adanya kebiasaan mencari informasi di lokasi bencana ini disebut Rizqy sebagai sebuah hal yang menakutkan dan juga telah mengakar di masyarakat.

"Sebenarnya menakutkan ketika kita menyadari bahwa kebiasaan melihat penderitaan orang lain begitu mengakar di masyarakat kita. Hal tersebut juga menyiratkan bahwa kesedihan orang lain dianggap sebagai komoditas yang menghibur," jelas Rizqy.

Hal ini bakal semakin menakutkan lagi ketika mereka sudah melakukan selfie dan membagikannya di media sosial. Hal ini merupakan salah satu pertanda adanya masalah moral yang serius.

"Tindakan tersebut merupakan pertanda sebuah masalah moral yang serius, karena praktik mengambil selfie di lokasi bencana lebih jahat daripada menjadi pengamat saja. Kebiasaan tersebut merupakan gejala patologi sosial, yaitu hilangnya rasa empati," tegas Rizqy.

Selain menunjukkan pertanda gejala hilangnya rasa empati pada diri seseorang. Tindakan selfie ini menjadi salah satu hal yang juga bisa sangat menyakiti para korban bencana.

"Secara psikologis, para korban akan menderita dua kali karena tidak mendapatkan bantuan yang diperlukan dan juga tanpa sengaja dibuat menjadi bagian dari semacam pertunjukan'," terang Rizqy.

0 comments:

Post a Comment