Thursday, September 26, 2019

Inilah Kesulitan yang Dialami Penderita Buta Warna Parsial


Melihat dunia yang penuh dengan warna terkadang tidak dimiliki oleh beberapa orang yang menderita buta warna. Buta warna merupakan kondisi dimana mata tidak mampu membedakan warna dasar, yaitu merah, hijau, biru, atau campuran. Buta warna terjadi karena mengalami masalah di butiran pigmen mata pada sel-sel kerucur di retina mata, sehingga mata gagal dalam menangkap spektrum warna tertentu. Pada sebagian besar kasus, buta warna biasanya telah muncul sejak lahir karena adanya kelainan genetik. Selain itu, bisa juga disebabkan karena faktor proses penuaan, cedera pada mata, gangguan mata tertentu (katarak, glaukoma, degerasi makular, dll), hingga karena efek samping penggunaan obat-obatan tertentu. Buta warna dibedakan menjadi dua jenis, yaitu buta warna total dan buta warna parsial.

Untuk buta warna total membuat penderitanya tidak bisa mengidentifikasi sama sekali warna yang dilihatnya. Pada penderita ini hanya dapat melihat hitam dan putih (gradasi warna abu-abu) atau monokrom. Namun kasus buta warna total ini sangat jarang ditemukan. Sedangkan untuk buta warna yang parsial atau yang sering disebut sebagai buta warna sebagian, penderitanya hanya tidak bisa mengidentifikasi beberapa warna tertentu secara akurat.

Pada dasarnya, penyebab buta warna parsial dikarenakan sel kerucut retina yang berperan untuk membantu melihat warna-warna tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga seringkali penderita tidak akan menyadari jika warna yang dilihatnya berbeda dengan cara melihat warna orang normal. Kondisi ini biasanya baru diketahui saat melakukan pemeriksaan di klinik atau saat melakukan test buta warna. Tidak bisa mengenali warna dengan baik tentu bukanlah hal yang mudah, karena akan menemukan beberapa kendala dalam kegiatan sehari-hari yang melibatkan warna. Berbagai tantangan yang dialami saat menderita penyakit buta warna jenis parsial ini, antara lain:

1. Kesulitan belajar.
Buta warna pada anak-anak bisa mengakibatkan gangguan belajar jika tidak diketahui sejak dini. Karena jika sudah terdeteksi sejak dini maka bisa diubah metode belajarnya. Pada beberapa kasus, penderita takut untuk mengakui masalahnya sehingga sering terlambat terdeteksi, padahal dalam kegiatan belajar sering sekali menemukan materai belajar yang menggunakan warna, seperti pada tabel dan grafik.

2. Kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi buta warna juga bisa membuat penderitanya mengalami kesulitan. Contohnya pada saat mengemudi, dimana penderita buta warna akan kesulitan dalam membedakan rambu-rambu lalu lintas.

3. Tidak memenuhi syarat untuk beberapa pekerjaan tertentu.
Untuk beberapa pekerjaan tertentu, ada persyaratan yang mengharuskan pelamarnya tidak memiliki gangguan buta warna. Sehingga penderita harus merelakan untuk tidak bisa melamar pada beberapa jenis pekerjaan dengan syarat tersebut. Seperti yang terjadi pada beberapa negara yang tidak mengijinkan penderita buta warna untuk bekerja di bidang pengaturan lalu lintas dan penerbangan. Selain itu ada beberapa lagi bidang pekerjaan yang tidak diperbolehkan untuk penderita buta warna, seperti angkatan bersenjata, pengemudi kendaraan besar, pekerja pada bidang elektronik, pelaut, dll.

Buta warna parsial umumnya disebabkan oleh faktor genetik yang diwariskan dari orang tua. Hingga kini belum ada pengobatan medis yang bisa menyembuhkan secara total pada penderita buta warna. Namun jangan berkecil hati terlebih dahulu. Karena buta warna bukanlah penyakit yang membahayakan dan kebanyakan penderitanya juga mampu beradaptasi dengan kondisi ini dan mampu untuk produktif dalam bekerja seperti pada orang dengan penglihatan normal lainnya.

0 comments:

Post a Comment